KONSELING KELUARGA
A.Pengertian Konseling Keluarga
Konseling
adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang pembimbing (konselor)
kepada seseorang konseli atau sekelompok konseli (klien, terbimbing,
seseorang yang memiliki problem) untuk mengatasi problemnya dengan jalan
wawancara dengan maksud agar klien atau sekelompok klien tersebut
mengerti lebih jelas tentang problemnya sendiri dan memecahkan
problemnya sendiri sesuai dengan kemampuannya dengan mempelajari
saran-saran yang diterima dari Konselor. Sedangkan arti dari keluarga
adalah suatu ikatan persekutuan hidup atas dasar perkawinan antara orang
dewasa yang berlainan jenis yang hidup bersama atau seorang laki-laki
atau seorang perempuan yang sudah sendirian dengan atau tanpa anak-anak,
baik anaknya sendiri atau adopsi dan tinggal dalam sebuah rumah tangga.
Konseling
keluarga pada dasarnya merupakan penerapan konseling pada situasi yang
khusus. Konseling keluarga ini secara memfokuskan pada masalah-masalah
berhubungan dengan situasi keluarga dan penyelenggaraannya melibatkan
anggota keluarga. Menurut D. Stanton konseling keluarga dapat dikatakan
sebagai konselor terutama konselor non keluarga, yaitu konseling
keluarga sebagai (1) sebuah modalitas yaitu klien adalah anggota dari
suatu kelompok, yang (2) dalam proses konseling melibatkan keluarga inti
atau pasangan ( Capuzzi, 1991 )
Konseling keluarga memandang
keluarga secara keseluruhan bahwa anggota keluarga adalah bagian yang
tidak mungkin dipisahkan dari anak (klien) baik dalam melihat
permasalahannya maupun penyelesaiannya. Sebagai suatu system,
permasalahan yang dialami seorang anggota keluarga akan efektif diatasi
jika melibatkan anggota keluarga yang lain. Pada mulanya konseling
keluarga terutama diarahkan untuk membantu anak agar dapat beradaptasi
lebih baik untuk mempelajari lingkungannya melalui perbaikan lingkungan
keluarganya (Brammer dan Shostrom,1982). Yang menjadi klien adalah orang
yang memiliki masalah pertumbuhan di dalam keluarga. Sedangkan masalah
yang dihadapi adalah menetapkan apa kebutuhan dia dan apa yang akan
dikerjakan agar tetap survive di dalam sistem keluarganya.
Pada
masa lalu, menurut Moursund (1990), konseling keluarga terfokus pada
salah satu atau dua hal, yaitu (1) keluarga terfokus pada anak yang
mengalami bantuan yang berat seperti gangguan perkembangan dan
skizofrenia, yang menunjukan jelas-jelas mengalami gangguan; dan (2)
keluarga yang salah satu atau kedua orang tua tidak memiliki kemampuan,
menelantarkan anggota keluarganya, salah dalam member kelola anggota
keluarga, dan biasanya memiliki sebagian masalah.
Anak di dalam suatu
keluarga sering kali mengalami masalah dan berada dalam kondisi yang
tidak berdaya di bawah tekanan dan kekuasaan orang tua. Permasalahan
anak adakalanya diketahui oleh orang tua dan sering kali tidak diketahui
orang tua. Permasalahan yang diketahui orang tua jika fungsi-fungsi
psikososial dan pendidikannya terganggu orang tua akan mengantarkan
anaknya ke konselor jika mereka memahami bahwa anaknya sedang mengalami
gangguan yang berat. Karena itu konseling keluarga lebih banyak
memberikan pelayanan terhadap keluarga dengan anak yang mengalami
gangguan.
Hal kedua berhubungan dengan keadaan orang tua. Banyak
dijumpai orang tua tidak berkemampuan dalam mengelola rumah tangganya,
menelantarkan kehidupan rumah tangganya sehingga tidak terjadi kondisi
yang berkesinambungan dan penuh konflik, atau memberi perlakuan secara
salah (ubuse) pada anggota keluarga lain, dan sebagainya merupakan
keluarga yang memiliki berbagai masalah. Jika mengerti dan berkeinginan
untuk membangun kehidupan keluarga yanag lebih stabil, mereka
membutuhkan konseling.
Perkembangan belakangan konseling keluarga
tidak hanya menangani dua hal tersebut. Permasalahan lain yang juga
ditangani karena anggota keluarga mengalami kondisi yang kurang
harmonis di dalam keluarga akibat stressor perubahan-perubahan budaya,
cara-cara baru dalam mengatur keluargannya, dan cara menghadapi dan
mendidik anak-anak mereka. Berdasarkan pengalaman dalam penanganan
konseling keluarga, masalah yang dihadapi dan dikonsultasikan kepada
konselor antara lain: keluarga dengan anak yang tidak patuh terhadap
harapan orangtua, konflik antar anggota keluarga, perpisahan diantara
anggota keluarga karena kerja di luar daerah dan anak yang mengalami
kesulitan belajar atau sosialisasi.
Berbagai
permasalahan-permasalahan keluarga tersebut dapat diselesaikan melalui
konseling keluarga. Konseling keluarga menjadi efektif untuk mengatasi
masalah-masalah tersebut jika semua anggota keluarga bersedia untuk
mengubah system keluarganya yang telah ada dengan cara-cara baru untuk
membantu mengatasi anggota keluarga yang bermasalah.
Sebagaimana di
kemukakan di bagian awal, konseling keluarga dalam beberapa hal memiliki
keuntungan. Namun demikian konseling keluarga juga memiliki beberapa
hambatan dalam pelaksanaannya, dan perlu dipertimbangkan oleh konselor
jika bermaksud melakukannya. Hambatan yang dimaksud di antarannya:
1.Tidak
semua anggota keluarga bersedia terlibat dalam proses konseling karena
mereka menganggap tidak berkepentingan dengan usaha ini, atau karena
alasan kesibukan, dan sebagainya; dan
2.Ada anggota keluarga yang
merasa kasulitan untuk menyampaikan perasaan dan sikapnya secara terbuka
dihadapan anggota keluarga lain, padahal konseling membutuhkan
keterbukaan ini dan saling percayaan satu sama lain.
B.Pendekatan Konseling Keluarga
Untuk
memahami mengapa suatu keluarga bermasalah dan bagaimana cara mengatasi
masalah-masalah keluarga tersebut, berikut akan dideskripsikan secara
singkat beberapa pendekatan konseling keluarga. Tiga pendekatan
konseling keluarga yang akan diuraikan berikut ini, yaitu pendekatan
system, conjoint, dan struktural.
1.Pendekatan Sistem Keluarga
Murray
Bowen merupakan peletek dasar konseling keluarga pendekatan sistem.
Menurutnya anggota keluarga itu bermasalah jika keluarga itu tidak
berfungsi (disfunctining family). Keadaan ini terjadi karena anggota
keluarga tidak dapat membebaskan dirinya dari peran dan harapan yang
mengatur dalam hubungan mereka.
Menurut Bowen, dalam keluarga
terdapat kekuatan yang dapat membuat anggota keluarga bersama-sama dan
kekuatan itu dapat pula membuat anggota keluarga melawan yang mengarah
pada individualitas. Sebagian anggota keluarga tidak dapat menghindari
sistem keluarga yang emosional yaitu yang mengarahkan anggota
keluarganya mengalami kesulitan (gangguan). Jika hendak menghindari dari
keadaan yang tidak fungsional itu, dia harus memisahkan diri dari
sistem keluarga. Dengan demikian dia harus membuat pilihan berdasarkan
rasionalitasnya bukan emosionalnya.
2.Pendekatan Conjoint
Sedangkan
menurut Sarti (1967) masalah yang dihadapi oleh anggota keluarga
berhubungan dengan harga diri (self-esteem) dan komunikasi. Menurutnya,
keluarga adalah fungsi penting bagi keperluan komunikasi dan kesehatan
mental. Masalah terjadijika self-esteem yang dibentuk oleh keluarga itu
sangat rendah dan komunikasi yang terjadi di keluarga itu juga tidak
baik. Satir mengemukakan pandangannya ini berangkat dari asumsi bahwa
anggota keluarga menjadi bermasalah jika tidak mampu melihat dan
mendengarkan keseluruhan yang dikomunikasikan anggota keluarga yang
lain.
3.Pendekatan Struktural
Minuchin (1974) beranggapan bahwa
masalah keluarga sering terjadi karena struktur kaluarga dan pola
transaksi yang dibangunn tidak tepat. Seringkali dalam membangun
struktur dan transaksi ini batas-batas antara subsistem dari sistem
keluarga itu tidak jelas.
Mengubah struktur dalam keluarga berarti
menyusun kembali keutuhan dan menyembuhkan perpecahan antara dan seputar
anggota keluarga. Oleh karena itu, jika dijumpai keluarga itu dengan
memperbaiki transaksi dan pola hubungan yang baru yang lebih sesuai.
Berbagai
pandangan para ahli tentang keluarga akan memperkaya pemahaman konselor
untuk melihat masalah apa yang sedang terjadi, apakah soal struktur,
pola komunikasi, atau batasan yang ada di keluarga, dan sebagainya.
Berangkat dari analisis terhadap masalah yang dialami oleh keluarga itu
konselor dapat menetapkan strategi yang tepat untuk mambantu keluarga.
C.Tahapan Konselor Keluarga
Tahapan
konseling keluarga secara garis besar dikemukakan oleh Crane
(1995:231-232) yang mencoba menyusun tahapan konseling keluarga untuk
mengatasi anak berperilaku oposisi. Dalam mengatasi problem, Crane
menggunakan pendekatan behavioral, yang disebutkan terhadap empat tahap
secara berturut-turut sebagai berikut.
1.Orangtua membutuhkan untuk
dididik dalam bentuk perilaku-perilaku alternatif. Hal ini dapat
dilakukan dengan kombinasi tugas-tugas membaca dan sesi pengajaran.
2.Setelah
orang tua membaca tentang prinsip dan atau telah dijelaskan materinya,
konselor menunjukan kepada orang tua bagaimana cara mengajarkan kepada
anak, sedangkan orang tua melihat bagaimana melakukannya sebagai ganti
pembicaraan tentang bagaimana hal inidikerjakan.
Secara tipikal,
orang tua akan membutuhkan contoh yang menunjukan bagaimana
mengkonfrontasikan anak-anak yang beroposisi. Sangat penting menunjukan
kepada orang tua yang kesulitan dalam memahami dan menetapkan cara yang
tepat dalam memperlakukan anaknya.
3.Selanjutnya orang tua mencoba
mengimplementasikan prinsip-prinsip yang telah mereka pelajari
menggunakan situasi sessi terapi. Terapis selama ini dapat member
koreksi ika dibutuhkan.
4.Setelah terapis memberi contoh kepada orang
tua cara menangani anak secara tepat. Setelah mempelajari dalam situasi
terapi, orang tua mencoba menerapkannya di rumah. Saat dicoba di rumah,
konselor dapat melakukan kunjungan untuk mengamati kemajuan yang
dicapai. Permasalahan dan pertanyaan yang dihadapi orang tua dapat
ditanyakan pada saat ini. Jika masih diperlukan penjelasan lebih lanjut,
terapis dapat memberikan contoh lanjutan di rumah dan observasi orang
tua, selanjutnya orang tua mencoba sampai mereka merasa dapat menangani
kesulitannya mengatasi persoalan sehubungan dengan masalah anaknya.
D.Peran Konselor
Peran
konselor dalam membantu klien dalam konseling keluarga dan perkawinan
dikemukakan oleh Satir (Cottone, 1992) di antaranya sebagai berikut.
1.Konselor
berperan sebagai “facilitative a comfortable”, membantu klien melihat
secara jelas dan objektif dirinya dan tindakan-tindakannya sendiri.
2.Konselor menggunakan perlakuan atau treatment melalui setting peran interaksi.
3.Berusaha menghilangkan pembelaan diri dan keluarga.
4.Membelajarkan klien untuk berbuat secara dewasa dan untuk bertanggung jawab dan malakukan self-control.
5.Konselor
menjadi penengah dari pertentangan atau kesenjangan komunikasi dan
menginterpretasi pesan-pesan yang disampaikan klien atau anggota
keluarga.
6.Konselor menolak perbuatan penilaian dan pembantu menjadi congruence dalam respon-respon anggota keluarga.
gambar konseling keluarga :
untuk download klik disini
Daftar Pustaka
Latipun. 2001. Psikologi Konseling. Universitas Muhammadiyah Malang. Malang
Sayekti Pujosuwarno. 1994. Bimbingan Dan Konseling Keluarga. Menara Mas
Offset. Yogyakarta
alfin
Kamis, 08 Mei 2014
teori kepribadian
A. Pengertian Teori Kepribadian
Teori merupakan salah satu unsur penting dari setiap pengetahuan ilmiah atau ilmu, termasuk psikologi kepribadian. Tanpa
teori kepribadian usaha memahami perilaku dan kepribadian manusia pasti
sulit untuk dilaksanakan. Apakah yang dimaksud dengan teori kepribadian
? Menurut Hall
dan Lindzey (Koeswara, 1991 : 5), teori kepriadian adalah sekumpulan
anggapan atau konsep-konsep yang satu sama lain berkaitan mengenai
tingkah laku manusia.
B. Fungsi Teori Kepribadian
Sama
seperti teori ilmiah pada umumnya yang memiliki fungsi deskriptif dan
prediktif, begitu juga teori kepribdian. Berikut penjelaskan fungsi
deskriptif dan prediktif dari teori kepribadian.
1. Fungsi Deskriptif
Fungsi
deskriptif (menjelaskan atau menggambarkan) merupakan fungsi teori
kepribadian dalam menjelaskan atau menggambarkan perilaku atau
kepribadian manusia secara rinci, lengkap, dan sistematis.
Pertanyaan-pertanyaan apa, mengapa, dan bagaimana seputar perilaku
manusia dijawab melalui fungsi deskriptif.
2. Fungsi Prediktif
Teori
kepribadian selain harus bisa menjelaskan tentang apa, mengapa, dan
bagaimana tingkah laku manusia sekarang, juga harus bisa memperkirakan
apa, mengapa, dan bagaimana tingkah laku manusia di kemudian hari. Dengan demikian teori kepribadian harus memiliki fungsi prediktif
C. Dimensi-dimensi Teori Kepribadian
Setiap teori kepribadian diharapkan mampu memberikan jawab atas pertanyaan sekitar apa, mengapa, dan bagaimana tentang perilaku
manusia. Untuk itu setiap teori kepribadian yang lengkap, menurut
Pervin (Supratiknya, 1995 : 5-6), biasanya memiliki dimensi-dimensi
sebagai berikut :
1. Pembahasan
tentang struktur, yaitu aspek-aspek kepribadian yang bersifat relatif
stabil dan menetap, serta yang merupakan unsur-unsur pembentuk sosok
kepribadian.
2. Pembahasan tentang proses, yaitu konsep-konsep tentang motivasi untuk menjelaskan dinamika tingkah laku atau kepribadian.
3. Pembahasan
tentang pertumbuhan dan perkembangan, yaitu aneka perubahan pada
struktur sejak masa bayi sampai mencapai kemasakan, perubahan-perubahan
pada proses yang menyertainya, serta berbagai faktor yang menentukannya.
4. Pembahasan
tentang psikopatologi, yaitu hakikat gangguan kepribadian atau tingkah
laku beserta asal-usul atau proses perkembangannya.
5. Pembahasan tentang perubahan tingkah laku, yaitu konsepsi tentang bagaimana tingkah laku bisa dimodifikasi atau diubah.
D. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Teori Kepribadian
Berkembangya
teori-teori kepribadian tidak terlepas dari sejumlah faktor yang
melatar belakangi dan mempengaruhinya, yang secara garis besar dibedakan
menjadi dua, yaitu faktor-faktor historis dan faktor-faktor
kontemporer. Koeswara (1991: 13) mengibaratkan kedua faktor
tersebut sebagai faktor pembawaan dan faktor lingkungan yang
mempengaruhi perkembangan kepribadian seseorang.
1. Faktor-faktor historis
Secara
historis banyak faktor yang mempengaruhi berkembanya teori-teori
kepribadian dan empat diantaranya merupakan faktor yang pengaruhnya
sangat kuat. Keempat faktor yang dimaksud adalah : a. peng-obatan klinis
Eropa, b. psikometrik, c. behaviorisme, dan d. psikologi Gestalt
(Koeswara, 1991: 13).
a. Pengobatan klinis di Eropa
Upaya
pengobatan, sepanjang sejarah selalu dihubungkan dengan konsepsi
tentang kepribadian. Demikian halnya dengan apa yang dilekukan di Eropa
pada abad ke-18
dan ke-19, terutama di Perancis. Atas dasar konsepsi-konsepsi fisiologis
dan aktivitas-aktivitas mental manusia, Philipe Pinel (1745-1926),
seorang dokter dari Perancis, menggambarkan gangguan kepribadian
psikosis sebagai akibat dari kerusakan fungsi otak.
Seorang dokter dari Jerman, Emil Kraeplin (1856-1926), membuat klasifikasi gangguan kepribadian berdasarkan konsepsi tentang psikosis yang fisikalistis. Ditinjau
dari perkembangan teori kepribadian, apa yang dilakukan Kraeplin
merupakan langkah besar karena gangguan kepribadian sudah dirumuskan dan
diklasifikasikan secara ilmiah.
Pengaruh
terbesar dari sejarah pengobatan klinis di Eropa terhadap perkembangan
kepribadian adalah yang terjadi pada abad ke-20, yaitu ketika Sigmund
Freud menuliskan konsepsi-konsepsinya yang dia susun berdasarkan
temuannya dalam menyembuhkan penderita neurosis, khususnya histeria.
Pengaruh Freud dengan Psikoanalisisnya terhadap teori kepribadian dapat
dilihat dari fakta bahwa hampir seluruh teori kepribadian modern
mengambil sebagian atau setidak-tidaknya mempersoalkan konsepsi-konsepsi
Freud dala penyusunan teori kepribadian (Koeswara, 1991: 15).
b. Psikometrik
Psikometrik
atau pengukuran psikologi memberikan pengaruh yang harus diperhitungkan
dalam perkembangan teori kepribadian. Sebelum ada psikometrik, ada
anggapan bahwa fungsi-fungsi psikologis manusia seperti kecerdasan, bakat, minat, motif, dst., sangat sulit bahkan tidak mungkin untuk bisa diukur.
Berbicara
tentang psikometrik dari sisi historis, tidak terlepas dari pembahasan
mengenai apa yang dilakukan oleh Gustav Theodor Fecher (1801-1887).
Fechner, yang beranggapan bahwa jiwa itu identik dengan raga, banyak
melakukan penelitian, khususnya tentang pengideraan dengan metode
eksperimen.
Apa yang telah dilakukan oleh Fecher menjadi pendorong bagi para ahli yang muncul kemudian untuk mengembangkan dan menggunakan pendekatan psikometrik untuk kaitan antara aspek fisik dengan aspek mental. Dengan berkembangnya psikometrik memungkinkan dilakukannya penelitian di bidang kepribadian.
c. Behaviorisme
Behaviorisme merupakan aliran psikologi yang lahir di Amerika Serikat dipelopori oleh John B. Watson (1878-1958). Pengaruh
behaviorisme terhadap perkembangan teori kepribadian terletak pada
upaya-upaya dan anjurannya untuk memandang dan meneliti tingkah laku
manusia secara objektif. Penelitian-penelitian yang telah
dilakukan oleh para behavioris dengan metode eksperimen mampu memberikan
sumbangan besar bagi terciptanya konsep-konsep tentang kepribadian yang
ketepatannya bisa diuji secara empiris.
d. Psikologi Gestalt
Psikologi Gestalt merupakan aliran psikologi yang lahir di Jerman dan yang dipelopori oleh Max Wertheimer (1880-1943), Wolfgang Kohler (1887- 1967), dan Kurt Koffka (18886-1941). Prinsip
pertama dan utama dari psikologi Gesltalt adalah bahwa suatu fenomena
hanya dan harus dimengerti sebagai suatu totalitas atau keseluruhan.
Demikian halnya dengan manusia berikut kesadaran dan tingkah lakunya
hanya dapat dipahami jika hal itu dilihat sebagai suatu totalitas.
Beberapa teoris kepribadian terkemuka yaitu Adler, Goldstein, Allport,
Maslow, dan Rogers mengembangkan teori kepribadian berdasarkan prinsip
holistik atai totalitas dari psikologi Gestalt.
Prinsip
kedua psikologi Gestalt, yang juga ikut mempengaruhi para teoris
keprbadian adalah prinsip bahwa fenomena merupakan data mendasar bagi
psikologi. Untuk itu dalam memahami perilaku manusia maka
peneliti atau pengamat harus berusaha merasakan dan menghayati apa yang
dialami oleh subjek yang diamati.
2. Faktor-faktor Kontemporer
Faktor-faktor kontemporer yang mempengaruhi perkembanga teori kepribadian mencakup faktor dari dalam dan dari luar psikologi. Faktor-faktor yang bersumber dari dalam bidang psikologi yaitu: a. munculnya perluasan bidang psikologi, seperti psikologi lintas budaya (cross-cultural psychology), dan b. Studi tentang proses-proses kognitif dan motivasi.
Faktor-faktor
kontemporer dari luar bidang psikologi yang mempengaruhi perkembangan
teori kepribadian antara lain berkembangnya aliran filsafat
eksistensialisme, perubahan sosial budaya yang pesat, dan berkembangnya
teknologi komputer.
Eksistensialisme
merupakan aliran filsafat yang menekankan kebebasan, penentuan diri,
dan keberubahan manusia, mempengaruhi para teoris kepribadian
eksistensial dan humanistik. Perubahan sosial budaya telah memberikan
arah baru kepada penelitian dan penyusunan teori kepribadian. Sedangkan
berkembangnya teknologi komputer membuka peluang yang luas bagi
penelitian secara besar-besaran dan cermat.
E. Anggapan-anggapan Dasar tentang Manusia
Setiap orang, termasuk teoris kepribadian, memiliki anggapan-anggapan dasar (basic assumtions)
tertentu tentang manusia yang oleh George Boeree disebut asumsi-asumsi
filosofis (Boeree, 2005 : 23). Anggapan-anggapan dasar yang diperoleh
melalui hubungan pribadi atau pengalaman-pengalaman sosial ini secara
nyata akan mempengaruhi persepsi dan tindakan manusia terhadap
sesamanya. Dalam konteks para teoris kepribadian, anggapan-anggapan
dasar ini mempengaruhi konstruksi dan isi teori kepribadian
yang disusunnya. Anggapan-anggapan dasar tentang manusia yang
mempengaruhi atau mewarnai teori-teori kepribadian adalah sebagai
berikut.
1. Kebebasan – ketidak bebebasan
Ada
anggapan bahwa manusia merupakan makhluk yang bebas berkehendak,
mengambil sikap, dan menentukan arah kehidupannya. Sebaliknya ada
anggapan yang berlawanan dengan itu, bahwa manusia merupakan makhluk
yang tidak bebas. Salah seorang teoris kepribadian, yaitu Abraham Maslow
menganggap bahwa manusia merupakan makhluk yang bebas, sementara itu
teoris kepribadiannya lainnya diantaranya Freud dan Skinner, menyatakan
bahwa pada dasarnya manusia merupakan makhluk yang perilakunya tidak
bebas karena ditentukan oleh sejumlah determinan.
2. Rasionalitas – irasionalitas
Maslow
dan para teoris kepribaian humanistik lainnya beranggapan bahwa manusia
merupakan makhluk yang perilakunya digerakkan oleh faktor-faktor yang
rasional. Sedangkan Freud menganggap bahwa manusia merupakan makhluk
yang cenderung irasional. Sementara itu Skinner dan para behavioris
lainnya tidak begitu terikat pada anggapan dasar rasional-irasional.
3. Holisme – elementalisme
Menurut
Freud dan Maslow manusia hanya dapat dimengerti bila dilihat dan
dipelajari sebagai totalitas. Sedangkan Skinner cenderung memenadang
menausia secara elemtalisme, bahwa perilaku manusia dapat dipelajari
sebagian-sebagian. Hal demikian juga diperkuat dengan pendapatnya bahwa
kepribadian adalah sekumpulan tingkah laku yang dipelajari.
4. Konstitusionalisme – environmentalisme
Konstitusionalisme
merupakan pandangan yang menyatakan bahwa kepribadian seseorang
ditentukan oleh faktor-faktor yang sudah dimiliki sejak lahir atau
faktor bawaan. Sedangkan environmentalisme menganggap bahwa kepribadian
seseorang ditentukan oleh faktor-faktor yang berasal dari lingkungannya.
Freud
dengan teori mengenai naluri yang bersifat bawaan, termasuk teoris
kepribadian konstitusionalis, demikian halnya Maslow dengan teori kebutuhan bertingkatnya. Namun komitmen Maslow pada konstitusi-onalisme ini tidak sekuat Freud. Sedangkan Skinner dan para behavioris lainnya beranggapan bahwa perilaku manusia merupakan hasil belajar dari lingkungannya.
5. Berubah – tidak berubah
Anggapan
dasar berubah – tak berubah mempersoalkan berubah tidaknya kepribadian
individu sepanjang hidupnya. Freud sebagai penganut determinisme,
beranggapan bahwa kepribadian individu ditentukan oleh pengalaman masa
kanak-kanak awal dan tidak akan berubah sepanjang hidup individu.
Sedangkan Maslow dan Skinner beranggapan bahwa kepribadian individu
mengalami perubahan sepanjang hidupnya.
6. Subjektivitas – objektivitas
Anggapan
dasar tentang subjektivitas dan objektivitas manusia berkenaan dengan
persoalan apakah perilaku manusia ditentukan oleh pengalaman personalnya
yang subjektif atau faktor-faktor eksternal yang objektif. Rogers,
tokoh psikologi fenomenologi dan salah satu tokoh psikologi humanistik,
menyatakan bahwa dunia batin atau dunia subjektif individu merupakan
penyebab terbesar bagi terjadinya perilaku individu.
Freud
dan Maslow berpegang pada anggapan dasar yang sama dengan Rogers bahwa
perilaku manusia bersifat subjektif. Sedangkan Skinner menolak pandangan
tentang pengalaman subjektif manusia. Dia lebih menitik beratkan pada
tingkah laku yang dapat diamati dan diukur secara objektif.
7. Proaktif – reaktif
Pandangan
proaktif-reaktif menjelaskan sumber penyebab perilaku manusia. Apakah
perilaku manusia didorong oleh faktor-faktor internal atau faktor-faktor
eksternal?
Freud
dan Maslow merupakah teoris kepribadian yang menganggap bahwa perilaku
manusia bersifat proaktif, yaitu lebih banyak digerakkan oleh
faktor-faktor internalnya. Menurut Freud, perilaku manusia
didorong oleh faktor internal yang sebagian besar berasal dari alam
yang tidak disadari. Sedangkan menurut Maslow, perilaku manusia didorong
oleh faktor-faktor internal yang disadari.
Skinner
dan para behavioris memandang bahwa perilaku manusia bersifat reaktif.
Menurut mereka perilaku manusia merupakan respon terhadap
stimulus-stimulus yang datang dari lingkungan.
8. Homeostatis – heterostatis
Konsep
homeostatis menjelaskan bahwa perilaku manusia terutama dimotivasi oleh
upaya mengurangi atau menghilangkan ketegangan yang terjadi akibat
ketidak seimbangan, misalnya lelah, lapar, ingin tahu, dst. Sedangkan
konsep heterostatis menjelaskan bahwa perilaku manusia terutama
dimotivasi oleh upaya menuju perkembangan dan aktualisasi diri.
Freud
merupakan salah satu teoris kepribadian yang berpegang pada konsep
homeostatis. Sedangkan Maslow berpegang pada konsep heterostatis.
Sementara Skinner menolak kedua konsep motivasi tersebut. Bagi Skinner,
perilaku manusia disebabkan oleh stimulus-stimulus yang datang dari luar
dirinya dan bukan kerena motivasi.
9. Dapat diketahui – tidak dapat diketahui
Freud
berpandangan bahwa manusia dapat diketahui sepenuhnya melalui metode
ilmiah karena perilaku manusia berlangsung berdasarkan hukum-hukum alam.
Sejalan dengan pandangan Freud, Skinner menyatakan bahwa melalui
observasi-observasi yang sistematis dapat diperoleh pengetahuan yang
memadai tentang manusia.
Maslow
berpandangan lain dengan Freud dan Skinner. Menurut Maslow manusia
tidak bisa diketahui sepenuhnya meskipun dengan uapaya-upaya ilmiah.
F. Klasifikasi Teori-teori Kepribadian
Dewasa
ini telah banyak teori-teori kepribadian untuk memudahkan mempelajari
para ahli telah mengklasifikasikan teori-teori tersebut ke dalam
beberapa kelompok dengan menggunakan acuan tertentu yaitu paradigma yang
dipakai untuk mengembangkannya. Berdasarkan paradigma yang dipergunakan
dalam mengembankannya, teori kepribadian dibedakan menjadi 4 paradigma
(Alwisol, 2005: 2-7). Kempat paradigma tersebut adalah:
1. Paradigma psikoanalisis: tradisi klinis psikiatri.
2. Paradigma traits: tradisi psikologi fungsionalisme dan psikologi pengukuran.
3. Paradigma kognitif: tradisi Gestalt.
4. Paradigma behaviorisme: tradisi kondisioning.
Adapula
klasifikasi teori kepribadian yang didasarkan pada sejarah
perkembangannya yang kemudian menjadi kekutan besar yang dijadikan
orientasi dalam pengembangan teori-teori kepribadian. Boeree (2005 : 29) menyatakan bahwa ada 3 orientasi atau kekuatan besar dalam teori kepribadian, yaitu :
1. Psikoanalisis beserta aliran-aliran yang dikembangkan atas paradigma yang sama atau hampir sama, yang dipandang sebagai kekuatan pertama.
2. Behavioristik yang dipandang sebagai kekuatan kedua.
3. Humanistik, yang dinyatakan sebagai kekuatan ketiga.
Referensi
Alwisol. (2005) Psikologi Kepribadian. Malang : Penerbit Universitas Muhammadyah Malang.
Boeree, CG. (1997) .Personality Theories :Melacak Kepribadian Anda Bersama Psikolog Dunia. (Alih bahasa : Inyiak Ridwan Muzir). Yogyakarta : Primasophie.
Koeswara, E. (1991) Teori-teori Kepribadian. Bandung Eresco.
Supratiknya (Penyunting) (1993) Teori-teori Psikodinamik (Klinis). Yogyakarta: Kanisius
Langganan:
Komentar (Atom)